Ini Ragam Tudingan ‘Miring’ Penghuni Rusun ke Pengembang

Duka Tinggal di Rusun

Wiji Nurhayat – detikfinance
Rabu, 01/10/2014 14:11 WIB
//images.detik.com/content/2014/10/01/1016/141918_rusunkemayoran.jpg
Jakarta -Banyak pemilik dan penghuni rumah susun (rusun) atau apartemen tak puas bahkan merasa menjadi ‘sapi perah’ pengembang yang mengelola rusun. Masalah pengelolaan rusun/apartemen belakangan ini menjadi konflik antara penghuni dengan pengembang, maklum saja dana kelolaan rusun menyangkut uang yang tak sedikit.

Ketua Kesatuan Aksi Pemilik dan Penghuni Rumah Susun Indonesia (KAPPRI) Krismanto Prawirosumarto mencoba merinci apa saja yang menjadi konsen para penghuni rusun selama ini terhadap perilaku pengembang.

Permasalahan yang disampaikan mulai dari proses pembelian, hingga perilaku pengembang rusun yang dianggap menyimpang. Berdasarkan catatannya, keluhan penghuni rusun muncul dari berbagai kawasan rusun di Jakarta, Medan, dan Surabaya.

“Kami telah menerima pengaduan dari 57 Kawasan Rusun di Jakarta, Medan, Semarang, Bali, Surabaya mengenai keluhan para penghuni rusun,” kata Krismanto Prawirosumarto, dalam surat elektroniknya, Rabu (1/10/2014).

Menurut Krismanto, dari berbagai keluhan tersebut umumnya terkait keluhan para pembeli tidak mendapatkan hak-haknya hingga modus rekayasa oleh pengembang.

Berikut penyimpangan yang dilakukan pengembang menurut versi KAPPRI, antara lain:

  • Pengembang memasarkan rusun sejak dalam bentuk gambar, belum dibangun, sedangkan ketentuan aturan boleh dipasarkan bila telah ada IMB, Izin Layak Huni, sertifikat telah dipecah pecah, PETA pertelaan jelas.
  • Pembeli diikat dengan perjanjian pengikatan jual beli yang menyimpang dari aturan, yang banyak memuat ancaman sanksi kepada pembeli, bila tidak menurut aturan-aturan dalam pengelolaan rusun, sanksi ditentukan pengembang sama sekali tak ada hubungan dengan proses jual beli.
  • Dalam UU rusun disebutkan bahwa para pemilik/pembeli wajib bergabung dalam Perhimpunan Pemilik Penghuni Satuan Rusun (PPPSRS). PPPSRS ini oleh UU No 20/2011 tentang Rusun diberikan wewenang mengelola rusun, atau menunjuk pengelola.
  • Menurut UU, PPPSRS ini berkuasa, maka pengembang bernafsu menguasai PPPSRS, dengan cara membentuk PPPSRS palsu, yang terdiri dari karyawan pengembang. “Salah Satu Pemilik yang dapat dibeli. Boleh duduk di Pengurus PPPSRS, buat kamuflase,” kata Krismanto.
  • Pengembang membentuk badan usaha yang ditunjuk PPPSRS palsu menjadi pengelola rusun tanpa persetujuan warga pemilik.
  • Pemilik dipersulit untuk hadir dalam Rapat PPPSRS palsu, sehingga seolah olah tak ada masalah. Pemilik dijauhkan dari media buat protes.
  • Keputusan tentang Harga Iuran Pemeliharaan Lingkungan, listrik, air, parkir diambil tanpa keterlibatan pemilik atau penghuni.
  • Semua keputusan Rapat PPPSRS palsu dimintakan pengesahan pemerintah daerah.
  • Pemilik yang sadar hak dan kritis diteror, intimidasi, dilaporkan polisi dengan alasan macam-macam agar dapat dipidana. Mobil yang dimiliki oleh penghuni yang kritis oleh pengembang dirusak, ban dicoblos, dan sebagainya. “Sampai sekarang hegemoni pengembang ini kokoh berdiri, dibantu aparat korup perjuangan para pemilik dan penghuni sedikit yang membantu. Para pejuang distigma ‘sebagian kecil orang rewel yang nggak mau bayar iuran’. Padahal mereka taat membayar dan hanya keberatan tarip naik terus di luar akal sehat,” katanya.
  • Pemilik ingin laporan keuangan pengelolaan namun tidak pernah ada, ironisnya aparat pemerintah kebanyakan percaya saja.
  • Pengembang yang telah jadi perusahaan terbuka membukukan unit-unit rusun yang telah dijual dalam kekayaan perusahaan Tbk sebagai aset perusahaan dengan cara disamarkan dalam sertifikat induk yang tidak dipecah pecah.

“Kami siap mengungkap modus rekayasa yang merugikan rakyat banyak. Mungkin ini pantas digolongkan mafia yang harus dibasmi,” katanya protes. (hen/hds)

Advertisements

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: