Lawan Telah Tergetar (Kenyataan dari Kursus Pengelolaan Rusun)

apartemen

Jakarta, 28 Januari 2016

Saya sempat mencari keterangan di sebuah Kursus Pengelolaan Rusun, secara menyamar, ingin mengumpulkan data ataupun keterangan yang berkenaan dengan kursus pengelolaan Rusun.

Singkatnya saya  temukan keterangan sebagai berikut:

  1. Para pengajar sebagian besar datang dari perusahaan pengelola yang ada saat ini.
  2. Yang menjelaskan tentang Undang-Undang (“UU”) tampak netral, menjelaskan UU yang berkenaan dengan Rusun secara netral, tidak berpihak ke Developer, tetapi juga tidak berpihak ke para Pembeli Rusun.
  3. Karena pengajar berasal dari perusahaan pengelola, mereka masih menyerap ilmu para senior-nya. Sebagai contohnya mereka bercerita bahwa sering di-demo para Pemilik, dan belum menemukan solusi untuk ‘menjinakkan’ para Pejuang. Bahkan menyatakan adanya ketakutan, karena makin banyak yang demo. Karena umumnya mereka orang gajian, mulai kuatir kalau tidak dapat meredam demo, mereka pasti akan digantikan orang lain, berarti akan kehilangan pekerjaan.
  4. Dalam Pembukaan kuliah mereka mengatakan mengutamakan klien , dalam hal ini para Penghuni Rusun, tetapi dalam pelajaran selanjutnya ber-tolak Belakang. Misalnya mereka tetap berkukuh dengan tidak dibuka-nya laporan keuangan. Singkatnya mereka hanya mengikuti cara pengelolaan saat ini yang banyak di demo para Penghuni/pemilik, tetapi tidak tahu jalan keluar yang mesti di tempuh. Padahal masalahnya hanyalah karena HUKUM tidak dijalankan. Mereka tahu bahwa demo akan berhenti bila PPPSRS diserahkan kepada para pemilik. Tetapi masalahnya boss tidak pernah mau setuju. Jadi mereka juga stress.
  5. Ada yang mengajarkan cara meningkatkan penghasilan parkir dengan memperkecil lot parkir. Ini di protes para peserta kursus karena beresiko mobil baret-baret, akan menimbulkan protes. Pengajar tidak bisa menjawab.
  6. Kursus ini berlangsung 5 Hari dengan biaya Rp 6000.000,- perorang termasuk makan.
  7. Pada akhir kursus, peserta kursus yang diberi kesempatan bicara menyampaikan sebagai berikut:

    a. Bahwa ilmu yang diberikan banyak yang tidak dapat diterapkan, Karena diakui ada banyak demo. Dalam Prinsipnya management itu adalah ” common sense”, artinya kalau aturan kebijakan yang diterapkan, adalah masuk akal apabila sebagian besar pemilik tidak akan demo, karena mereka puas. Kalau masih ada demo berarti masih harus ada yang perlu dibereskan. Pengelolaan perusahaan apapun kalau Prinsipnya benar, kesulitan hanya muncul didepan, selama karyawan belum paham betul, dan masih keliru. Begitu aturan telah lengkap, perusahaan akan berjalan sesuai Standard Operating Procedure (SOP). Hasilnya akan memuaskan, dan pimpinan bisa memikirkan yang lain. Pekerjaan Cukup diserahkan ke eselon dibawahnya.
    b.  Kami datang ke sini dengan membayar mahal karena ingin mendapatkan pelajaran cara mengatur yang benar,  agar tidak sampai ada demo, karena yang diatur puas.
    c. Kami semestinya mendapatkan pelajaran yang sesuai common sense.

    Kesimpulan saya dari cerita diatas:
    1. Perjuangan para pemilik telah membingungkan para karyawan pengelola, karena banyaknya demo tidak puas. Mereka mulai takut kehilangan Pekerjaan. Saya yakin mereka akan mulai menekan atasan pemilik Konglomerat untuk mulai mendengar aspirasi para pemilik. Pemodal Besar tidak mungkin bekerja sendiri, dan makin sulit mencari karyawan. Orang akan terdorong memilih Pekerjaan lain.
    2. Ini tentu akan berdampak terhadap pemasarannya Rusun. Orang akan berpikir panjang sebelum membeli Rusun, karena banyak masalah.
    3. Kita telah menyebarkan API PERJUANGAN cukup meluas, dan menggetarkan lawan kita. Kebingungan dimulai dari karyawan yang langsung berhadapan dengan kita. “NGAPAIN makan gaji kecil TAPI repot terus?”
    4. Perjuangan haruslah didorong terus agar makin luas, makin intensif, makin massive.
    5. Fajar KEMENANGAN telah merekah di ufuk Timur.
    6. Maju terus pantang mundur, Sebab perjuangan kita untuk merebut hak-hak kita. Bila kita gagal akan terpaksa diwariskan ke anak-anak kita.
    Mau pilih yang mana? Berjuang sampai berhasil? Mewariskan penderitaan ke anak kita?

    Kalau kita merasa lelah , bisa berhenti sejenak untuk menyiapkan gerakan berikutnya yang lebih dahsyat. Jangan pernah menyerah atau putus asa.

    Salam KAPPRI.

    Krismanto
    http://www.kappri.org

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: